Selasa, 17 Januari 2012

Filsafat Ilmu

BAB I
PENDAHULUAN

a.    Latar Belakang
Manusia adalah merupakan makhluk Tuhan yang tergolong sangat istimewa, di mana ia diberikan suatu sifat yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya, yakni sifat selalu dan serba ingin tahu. Dengan keistimewaan itu pula manusia disebut sebagai satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh.
Makhluk lain seperti binatang juga mempunyai pengetahuan, akan tetapi pengetahuan yang ada padanya hanya terbatas pada kelangsungan hidupnya semata. Sedang manusia mengembangkan pengetahuannya itu untuk mengatasi kebutuhan kelangsungan hidupnya dan tidak henti-hentinya memikirkan hal-hal baru, karena manusia hidup sebenarnya tidak sekedar untuk kelangsungan hidup, namun lebih dari itu. Dalam hidup dan kehidupannya, manusia mengembangkan kebudayaan, memberi makna kepada kehidupannya serta berusaha memanusiakan diri dalam hidupnya.
b.    Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan selain untuk memenuhi tugas dari Bapak
Widjono H.S, M.M. selaku dosen pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu, juga untuk mendeskripsikan dasar-dasar pengetahuan kepada para pembaca. Diharapkan makalah ini dapat menjadi informasi yang bermanfaat dalam kegiatan perkuliahan pada mata kuliah Filsafat Ilmu.








BAB II
PEMBAHASAN
1.    HAKIKAT PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah suatu keadaan yang hadir dikarenakan persentuhan kita dengan suatu perkara. Keluasan dan kedalaman kehadiran kondisi-kondisi ini dalam pikiran dan jiwa kita sangat bergantung pada sejauh mana reaksi, pertemuan, persentuhan, dan hubungan kita dengan objek-objek eksternal. Hasilnya, makrifat dan pengetahuan ialah suatu keyakinan yang kita miliki yang hadir dalam syarat-syarat tertentu dan terwujud karena terbentuknya hubungan-hubungan khusus antara subjek (yang mengetahui) dan objek (yang diketahui) dimana hubungan ini sama sekali kita tidak ragukan.
John Dewey menyamakan antara hakikat itu sendiri dan pengetahuan dan beranggapan bahwa pengetahuan itu merupakan hasil dan capaian dari suatu penelitian dan observasi. Menurutnya, pengetahuan seseorang terbentuk dari hubungan dan jalinan ia dengan realitas-realitas yang tetap dan yang senantiasa berubah.
Dalam pengetahuan sangat mungkin terdapat dua aspek yang berbeda, antara lain:
1.    Hal-hal yang diperoleh. Pengetahuan seperti ini mencakup tradisi, keterampilan, informasi, pemikiran-pemikiran, dan akidah-akidah yang diyakini oleh seseorang dan diaplikasikan dalam semua kondisi dan dimensi penting kehidupan.
2.    Realitas yang terus berubah. Sangat mungkin pengetahuan itu diasumsikan sebagai suatu realitas yang senantiasa berubah dimana perolehan itu tidak pernah berakhir.
Bagi para penganut empirisme, hakekat pengetahuan adalah indra, sedang para rasionalis tentu jawabannya lain. Jawaban atas hakekat pengetahuan diberikan oleh aliran idealism, empirisme, positivism dan pragmatism. (Ali Mudhofir, dalam Filsafat Ilmu).
1.    Idealisme
Penganut aliran ini berpandangan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental dan psikologis yang bersifat subyektif. Oleh karena itu pengetahuan tidak lain adalah gambaran sebenarnya tentang kenyataan yang beradadi luar pikiran manusia.
2.    Empirisme
Pengetahuan adalah pengalaman. Tokoh empirisme David Hume berpendapat bahwa idea-idea dapat dikembalikan kepada sensasi-sensasi (rangsang indra). Pengalaman merupakan ukuran terakhir dari kenyataan.
3. Positivisme
Positivisme merupakan perpanjangan dari empirisme. Para penganut aliran ini menolak kenyataan di luar pengalaman. Mereka berpendapat bahwa kepercayaan yang berdasarkan dogma harus digantikan pengetahuan yang berdasarkan fakta.
4. Pramatisme
Hakekat pengetahuan terletak dalam manfaat praktisnya bagi kehidupan. Nilai sebuah pengetahuan tergantung pada penerapannya dalam kehidupan. Suatu pengetahuan itu benar bukan karena ia mencerminkan kenyataan obyektif tetapi karena bermanfaat bagi umum.

Pengetahuan dapat ditinjau dari sumber yang memberikan pengetahuan tersebut.
Dalam hal wahyu dan intuisi, maka secara implisit kita mengakui bahwa wahyu (dalam hal ini Tuhan yang menyampaikan wahyu) dan intuisi adalah sumber pengetahuan. Pengetahuan yang digunakan dalam penalaran pada dasarnya bersumber pada rasio atau fakta. Rasio adalah sumber kebenaran mengembangkan paham yang kemudian disebut sebagai nasionalisme. Fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran mengembangkan paham empirisme. Penalaran yang dikaji dala studi ini pada pokoknya adalah penalaran ilmiah. Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif, dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme dan penalaran induktif dengan empirisme.































2.  HAKIKAT ILMU

Apakah ilmu itu? Moh. Nazir, Ph.D (1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum.
Sedangkan Ahmad Tafsir (1992:15) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris.
Sementara itu, Sikun Pribadi (1972:1-2) merumuskan pengertian ilmu secara lebih rinci (ia menyebutnya ilmu pengetahuan), bahwa :
“ Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditentukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif itu kita sebut ilmu pengetahuan.”
Dari beberapa pengertian ilmu di atas dapat diperoleh gambaran bahwa pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain).
2.1.        Syarat-Syarat Ilmu :
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1.    ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti.
2.    ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah.
3.    Pokok permasalahan (subject matter atau focus of interest). Ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.

2.2.        Karakteristik Ilmu
Di samping memiliki syarat-syarat tertentu, ilmu memiliki pula karakteristik atau sifat yang menjadi ciri hakiki ilmu. Randall dan Buchler mengemukakan beberapa ciri umum ilmu, yaitu :
(1) hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama,
(2) Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan, dan
(3) obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi.
Pendapat senada diajukan oleh Ralph Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum, dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44).
3.    PENALARAN
Kemampuan menalar menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival).
Pada hakikatnya manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya. Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama, yaitu :
a.    Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
b.    Kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.
Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran. Binatang mampu
berpikir namun tidak mampu berpikir nalar.
            Dua kelebihan inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat komunikatif dan pikiran yang mampu menalar. Manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, mengindera, dan totalitas pengetahuannya berasal dari ketiga sumber tersebut; disamping wahyu yang merupakan komunikasi Sang Pencipta dengan makhlukNya.
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi–proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Ciri-ciri penalaran, yaitu :
a.    Adanya suatu pola berpikir yang secara luas yang dapat disebut logika
b.    Penalaran adalah sifat analitik dari proses berpikirnya atau kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.
Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
3.1.        Metode dalam Menalar
Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
a.    Induktif
Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
b.    Deduktif
Berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.



3.2.        Syarat-Syarat Kebenaran dalam Penalaran
Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.






















4.    LOGIKA
Secara luas, logika dapat didefinisikan sebagai proses penarikan kesimpulan secara sahih (valid). Kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif  dan logika deduktif . Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari khusus ke umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai logika deduktif, yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal umum  ke khusus.
Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual (khusus). Umpamanya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai mata, gajah mempunyai mata,demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai binatang lainnya. Dari kenyataan-kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum,yakni bahwa semua binatang mempunyai mata.
Deduksi adalah cara berpikir, yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme.
Contoh:
Semua manusia dapat mati           (premis mayor)
Ken Arok adalah manusia             (premis minor)
Ken Arok dapat mati                        (kesimpulan)













BAB III
PENUTUP


Pengetahuan pada intinya adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Definisi pengetahuan dirangkum sebagai sesuatu yang ada atau dianggap ada dari hasil persesuaian subjek dengan objek, hasil kodrat manusia ingin tahu, hasil persesuaian antara induksi dengan deduksi sebagai suatu gambaran objek-objek eksternal yang hadir dalam pikiran manusia dan jiwa seseorang dikarenakan adanya reaksi, persentuhan,dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya .
Pengetahuan harus melalui uji coba untuk dapat dikatakan sebagai ilmu. Apabila telah melalui berbagai penelitian dan bersifat logis, maka pengetahuan tersebut dapat disebut ilmu. Ilmu yang sudah melalui penelitian selanjutnya dapat dimengerti oleh penalaran manusia berdasarkan bukti-bukti yang empiris. Penalaran itulah yang nantinya digunakan untuk mengembangkan suatu pemikiran dalam memecahkan suatu masalah.































DAFTAR PUSTAKA


-       S.Suriasumantri, Jujun. Filsafat ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan .1998
-       http://mohamadtaufik.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2011/01/27/peper-asal-usul-pengetahuan-dan-hakekat-pengetahuan/
-       Filsafat_Ilmu,http://members.tripod.com/aljawad/artikelfilsafat_ilmu.htm
-       Koento Wibisono. 1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
-       Russel, Bertrand. 1993. Our Knowledge Of The External World: As a Field For Scientific Method  in Philoshophy. London: Routedge
-       Ewing A.C. 2003. Persoalan-Persoalan Mendasar Filsafat. Jakarta : pustaka pelajar














Pertanyaan dan Jawaban :
1.    Sebutkan contoh pengetahuan dan bukan pengetahuan !
(Wahyuni Marminingsih 2115110804)
2.    Berikan contoh logika induktif dan deduktif !
(Ditya Pramesti 2115110815)
3.    Apakah logika penalaran bisa menjadi ilmu pengetahuan ?
(Isra Berlian 2115110002)

Jawab :
1.    Pengetahuan merupakan segala informasi apapun yang kita ketahui. Contohnya, apabila kita mengetahui kapan datangnya hujan, apa yang menyebabkan adanya hujan, dapat dikatakan itu adalah pengetahuan. Sebab, kejadian atau peristiwa hujan itu suatu informasi. Sedangkan yang bukan termasuk pengetahuan ialah hal yang tidak masuk di akal atau tidak logis. Hal ini hanya perlu kita ketahui saja.

2.    Contoh logika induktif :
Kuda Sumba punya sebuah jantung
Kuda Australia punya sebuah jantung
Kuda Amerika punya sebuah jantung
Setiap kuda punya sebuah jantung
Contoh logika deduktif :
Semua manusia dapat mati     (premis mayor)
Ken Arok adalah manusia       (premis minor)
Ken Arok dapat mati                  (kesimpulan)

3.    Logika dapat menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Sebab antara logika penalaran dengan ilmu pengetahuan saling berhubungan. Logika yang teruji secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan kelogisannya maka akan masuk ke daya nalar seseorang sehingga mampu berkembang menjadi sebuah ilmu pengetahuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar